Someone Has to Die in Indonesian!

I’m happy to announce that my first novel on terrorism and peacemaking in Indonesia, SOMEONE HAS TO DIE, is now published in the Indonesian language (Bahasa Indonesia), and on sale here.

I’ve been blessed with some amazing endorsements from leading Indonesian Muslims such as Abd. Rohim Ghazali (Executive Director of the Maarif Institute), Azaki Khoirudin (CEO of IBTimes Indonesia), Diyah Puspitarini (Head of PP Nasyiatul Aisyiyah) and several others.

God willing, once Covid restrictions are withdrawn, I hope to do several book discussion events (acara bedah buku) in several cities across Indonesia.

For now, those of you who read Bahasa Indonesia can enjoy this short excerpt from Chapter 7.

Syukran menggeram. “Dasar bodoh. Hentikan omong kosong kalian dan gunakan otak kalian sebentar saja. Aku sedang berbicara soal jihad.” 

Sontak Hafiz menanggapinya. “Benar. Aku setuju dengan Syuk. Kapan kita akan berhenti main-main dengan silat dan mulai melakukan sesuatu untuk melawan para kafir ini dan mengambil kembali negara kita? Aku membaca di majalah Sabili tentang remaja di Jawa yang meledakkan gereja karena dia mendengar orang-orang kafir itu akan membawa tiga ekor babi besar ke kotanya untuk jamuan mewah. Gila! Kalau seseorang membawa babi ke kota kita, kita harus melakukan hal sepadan untuk memberi mereka pelajaran.” 

Tadi pagi di sekolah Hafiz mencuri perhatian yang seharusnya  menjadi milikku. Sekarang dia mau mencuri ideku tentang jihad. Syukran mengisap rokoknya dalam-dalam, kemudian menurunkan nada suaranya seperti sedang menceritakan sebuah rahasia. “Itu masih tidak ada apa-apanya. Saat masih muda, ayahku pergi ke Afghanistan. Dia bilang, suatu hari Mullah Omar memerintahkannya untuk melakukan perlawanan sambil membawa granat dan pisau. Katanya, orang-orang Kristen di suatu gereja telah merobek Al-Qur’an dan mereka pantas diberi pelajaran. Ayahku menyelinap lewat jendela di bagian depan gereja dan meledakkan pendeta dan jemaat di baris pertama sampai hancur. Lalu dia berlari ke pintu bagian belakang dan ketika semua orang berlarian keluar, dia menggorok 57 orang tepat di leher dan membiarkan mereka jatuh bertumpukan di kanan-kiri pintu. Salah satu pria yang dia tusuk sedang membawa kitab Injil. Ayahku merobeknya menjadi dua bagian dan meletakkan robekannya masing-masing di tumpukan mayat itu sebelum akhirnya menghilang.” 

Semuanya terdiam sampai akhirnya Juki berdeham dan bertanya, “Kenapa ayahmu tidak pernah menceritakan kisah keren seperti itu di kelas?” 

“Ayahku terlalu sopan untuk pamer seperti kebanyakan orang.” Syukran sekilas menatap mata Hafiz, kemudian memalingkan wajahnya. “Dia memintaku berjanji tidak akan menceritakan kisahnya itu. Tapi aku yakin dia tidak akan keberatan jika aku hanya menceritakan satu saja.” Pada saat itu, Syukran merasa rasa hormat teman-temannya kepadanya semakin bertambah, seperti cairan merkuri dalam termometer yang kian melonjak di bawah cuaca panas Kota Banjar.

Mata Fani mengawasi dua orang pria yang berjalan menyeberangi jalan. Salah satunya membawa botol berisi minuman keras hasil racikan sendiri. Syukran menyadarinya dan ikut mengawasi dua pria itu. Fani bergumam, “Seandainya ayahku bisa sekeren ayahmu. Dia tidak melakukan apapun selain minum dan memukuli aku dan ibu.” Semua orang tahu ayah Fani adalah seorang pemabuk yang kerap melakukan kekerasan. Meskipun mereka suka mengganggunya, mereka semua melindungi Fani seperti adik sendiri, setidaknya ketika dia berada di luar rumah. 

“Syuk, apa kamu mau pergi ke Afghan seperti ayahmu?”

“Mungkin suatu hari nanti. Ayahku tidak akan memberi tahuku apa-apa. Aku harus mencari tahu sendiri.” 

Juki melempar puntung rokoknya. “Mungkin perekrut dari JI yang kita lihat tahun lalu akan kembali.” 

“Yang aku ingin tahu, kenapa murid JI semuanya adalah orang Jawa? Kalian tahu pelaku-pelaku bom Bali yang salah satunya Noordin M. Top, mereka semua berasal dari Jawa. Kenapa tidak ada pembunuh orang kafir yang berasal dari Banjar?” 

Hafiz mengangkat kedua tangannya seakan-akan meminta teman-temannya untuk diam. “Sudah lama aku mempersiapkan pengumuman ini. Perkenalkanlah amir masa depan pertama yang berasal dari Banjar.” Ia membungkukkan kepalanya sedikit, berharap mendapat tepuk tangan. 

Udin tidak bisa menahan lagi. “Baik, semuanya, inilah dia satu-satunya Amir Cacat kita—“Sang Pemimpin Pincang”. Dalam usahanya membunuh presiden Amerika, dia tak sengaja menembak kakinya sendiri.” Udin tertawa terbahak-bahak dan mengundang gelak tawa dari yang lain. Ia menepuk lengan Hafiz dan menyorakinya. 

Hafiz berusaha membela dirinya sendiri. “Hei, hanya aku dan Syuk atlet yang paling baik di sini. Kalian pikir mereka akan merekrut anak gendut seperti Kiki?” Kiki adalah anak yang paling gemuk di ekskul silat. Ia selalu berdiri di barisan belakang supaya terhindar dari teman-temannya yang suka menggodanya tanpa ampun. “Atau yang berengsek seperti Udin, yang ototnya cuma ada di mulut saja?” 

“Setidaknya mulutku tidak perlu dibungkus es batu dan di arak naik motor seperti tadi pagi! Kamu mirip seperti nenek-nenek yang kakinya terjepit di tas belanja!” Mendengar olokan Udin, Fani tertawa yang paling keras sampai tubuhnya terjatuh dari beranda, mengundang teriakan yang lebih meriah lagi. Beberapa orang yang berlalu-lalang mengendarai motor hanya melirik mereka. Tapi orang-orang di Kelayan Dalam sudah terbiasa melihat orang-orang mabuk kapan saja, sehingga mereka tidak berusaha mendiamkan mereka. 

Juki melanjutkan pembicaraan mereka: “Memang benar. Mereka ingin merekrut atlet. Ingat bom Marriott di Jakarta tahun 2009? Aku membaca bahwa pelaku pengebomannya adalah anak sekolahan bernama Dani. Dia adalah pemain basket, pintar, dan dari sekolah yang bagus. Tidak seperti kita.” 

“Ya, kalau dia bisa melakukannya, kenapa kita tidak?” Syukran menantang teman-temannya. 

“Iya, kenapa bukan aku?” Hafiz menambahkan. 

“Iya, kenapa bukan aku juga?” Udin setuju. “Kalian sebaiknya membawaku juga, soalnya kalau kita mati sebagai syahid dan bertemu 70 perawan di surga, aku akan jadi satu-satunya yang paham bagaimana menghadapi mereka.”

Published by Jim Baton

Jim Baton (pen name) has spent over 20 years living in the Muslim world, where he’s been involved in a variety of peace and reconciliation activities including interfaith dialogue, training elementary through university students in peace principles, and bringing Christians and Muslims together to pray. Jim's writing, speaking and teaching is helping Christians and Muslims build bridges of understanding, love and prayer both in Muslim nations and at home in America. His novels contain a depth of understanding regarding the roots of the Christian and Muslim conflict, how to bring healing to Abraham’s broken family, how to combat terrorism with non-violence and love, and how to become a true peacemaker.

One thought on “Someone Has to Die in Indonesian!

  1. Selamat atas buku Jim Baton di publish dalam bahasa Indonesia! Semoga banyak orang Indonesia membaca dan menjadi alat peace making in Indonesia. I can’t wait for the movie to follow!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: